Bitcoin Tidak Mati, Tapi Sedang Dijinakkan
Eksperimen besar desentralisasi yang dimulai dengan lahirnya Bitcoin kini perlahan dijinakkan; diberi label, dipagari, dan dimasukkan kembali ke dalam arsitektur keuangan yang sejak awal ingin ia hindari.
Wall Street dengan produknya, serta pemerintah dengan buku aturannya, tengah mengubah jaringan moneter peer-to-peer (P2P) menjadi sekadar lini produk keuangan. Kecepatan proses “redomestikasi” ini seharusnya mengkhawatirkan siapa pun yang masih peduli pada etos asli Bitcoin, dan tidak bisa lagi diabaikan.
Dulu, kalangan institusi menertawakan Bitcoin. Sekarang, mereka yang mencatatkannya di bursa.
Dari Cypherpunk Money ke Mesin Biaya TradFi
Perubahan ini murni demi keuntungan finansial. Hal itu terlihat pada produk seperti ETF Bitcoin spot dan saluran keuangan tradisional (TradFi) lainnya. Uang cypherpunk—dan etos desentralisasi yang melekat padanya—sedang dikonversi menjadi mesin biaya untuk manajer aset terbesar di dunia.
Contohnya, ETF Bitcoin di Amerika Serikat telah menyerap sekitar $9 miliar. Ini membuktikan bahwa pertumbuhan pasar kini lebih digerakkan oleh instrumen keuangan pasif daripada dompet pribadi. Dalam jangka pendek, hal ini terlihat seperti validasi; tetapi dalam jangka panjang, lebih menyerupai bentuk penangkapan.
Sentralisasi: Gatekeeper dan Chokepoint Baru
Membeli saham dalam bentuk trust bukan berarti memiliki aset bearer. Pemegang saham tidak memegang private key, sehingga mereka sebenarnya tidak punya klaim langsung atas aset. Klaim tersebut dikelola oleh segelintir kustodian dan market maker, yang pada akhirnya menjadi kebijakan de facto bagi jutaan investor.
Ketika satu perusahaan memegang kendali kustodian mayoritas ETF Bitcoin spot, daya tahan sensor jaringan (censorship-resistance) praktis dialihkan ke satu program kepatuhan. Misalnya, Coinbase kini menjadi kustodian untuk lebih dari 80% penerbit ETF crypto di AS.
Inilah bagaimana sentralisasi terjadi secara terbuka, saat price discovery bergeser dari pasar self-custody ke mekanisme lelang penutupan bursa. ETF Bitcoin spot kini bahkan menguasai porsi besar perdagangan pada hari-hari aktif.
Pengaruh tata kelola pun bergeser dari pengguna ke pengacara lewat prospektus hukum, sementara risiko bergeser dari banyak domain kecil (seperti wallet atau node) ke lebih sedikit domain besar.
Regulasi Global dan Dampaknya
Di Eropa, regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA) dipasarkan sebagai kejelasan aturan—dan dalam banyak hal memang benar. Namun, rezim stablecoin mengungkap kelemahan nyata tentang fungibilitas lintas batas dan arbitrase regulasi.
Token dengan merek tertentu bisa bergerak melintasi yurisdiksi dengan standar cadangan berbeda, menciptakan narasi “keamanan” yang sebenarnya hanya menutupi ketergantungan baru pada regulator untuk menambal celah setelah skala penggunaan membesar.
Bitcoin: Bukan Sekadar Produk Investasi
Para pendukung ETF berargumen bahwa ini adalah jalur alami setiap kelas aset menuju kedewasaan. Namun, Bitcoin berbeda. Ia bukan hanya instrumen investasi, melainkan jaringan penyelesaian (settlement network) dengan sifat moneter unik.
Semakin besar permintaan dialirkan melalui produk yang menghalangi self-custody, semakin Bitcoin kehilangan fungsinya sebagai penyeimbang terhadap kekuasaan terpusat. Alih-alih menjadi alat pembebasan finansial, Bitcoin justru berisiko berubah menjadi perpanjangan tangan institusi besar.
Tren ini menantang akar filosofi Bitcoin sebagai aset self-custody. Dan jika hanya mengandalkan alasan “number go up” (harga naik) sambil membiarkan hak pengguna menghilang, maka Bitcoin kehilangan makna awalnya.