May 20, 2019
0

Chainsight.news - Proyek Jalan Sabuk atau Project One Belt One Road (OBOR) juga sering dikenal dengan Road Belt Initiave. Proyek ini sudah dirilis sejak 6 tahun lalu yang akan menghubungkan negara-negara dunia dengan membangun infrastuktur jalan tol (highway) dan jembatan (bridges) untuk mempermudah akses ekonomi negara-negara dalam daftar program road belt initiative. China tidak akan kewalahan membangun proyek yang akan memakan dana cukup besar tersebut karena memiliki deposit sebesar USD 3 Triliun. Meskipun ada kontradiksi bahwa masih ada warga China yang hidup di bawah USD 2 per hari. Apakah Proyek Jalan Sabuk tersebut semata-mata dalam rangka sharing ekonomi dan bukan menanamkan pengaruh politik? Sejauh ini sudah ada 37 pemimpin dunia yang tertarik pada proyek itu dari 80 negara anggota yang terdaftar.

Pertemuan APEC Papua Nugini November 2018 adalah saat dimana genderang perang ekonomi dan politik Amerika dan China dimulai dengan tensi tinggi di hadapan 21 negara peserta yang sedianya forum tersebut adalah dalam rangka kerja sama ekonomi Asia-Pasifik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kerja sama APEC, forum PNG itu berakhir tanpa kesepakatan.  Proyek Jalan Sabuk (Road and Belt Initiative) menjadi isu panas dalam forum tersebut. Ibarat lampu lampu traffic light, berbagai respons sudah diberikan hampir separuh belahan dunia dari negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Selatan, ditambah lagi akan diterapkannya koneksi jaringan 5G pada program road and belt, membuat Wakil Presiden Amerika Mike Pence berpikir keras mempengaruhi negara-negara APEC agar menolak proyek tersebut. Amerika memiliki pandangan sendiri terhadap proyek tersebut, bisa jadi ini yang disebut dengan jebakan Thucydides dimana negara-negara penerima bantuan pinjaman proyek itu tidak dapat mengembalikan pinjamannya lalu negara-negara tersebut mengalami jebakan kebangkrutan sebab dijamin pemerintah sehingga China dapat mengambil alih aset strategis. Thucydides trap kebanyakan berakhir dengan perang. Apakah alasan tersebut masuk akal?  China tidak menerima alasan itu dan meyakini tujuan dari proyek tersebut untuk membangun perekonomian dunia bersama-sama.

Perang dagang Amerika-China juga dipicu oleh twit Presiden Amerika Donald J Trump. Pada Jumat (10/5/2019), Trump nge-twitt sentimen negatif terhadap pemberlakuan tarif pajak barang-barang impor China yang memancing bursa-bursa saham Amerika Dow Jones Industrial Average, S&P 500, Nasdaq Composite dan pasar-pasar Eropa FTSE 100 London, Index DAX Jerman, Paris CAC 40 mengalami penurunan, namun bitcoin dan crypto lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap sentimen tersebut, bahkan sebaliknya nilai bitcoin dan mata uang crypto mengalami kenaikan. Hal ini bisa jadi karena bitcoin dan crypto sama sekali tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.

Trump yang nasionalis telah mengumumkan perang dagang secara terang-terangan terhadap China. Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi terkuat saat ini mungkin tidak menginginkan China untuk mendahului, mungkin berbekal pengalaman Amerika yang dapat menjatuhkan ekonomi Inggris dan Jepang. Amerika ingin kembali mempertahankan posisinya sebagai negara dengan ekonomi dunia terkuat untuk melawan China. Namun kali ini yang dihadapi adalah negara Tirai Bambu dimana ekonominya bergerak dengan sangat cepat. Amerika maju dengan tarif 25% dan tentunya hal yang tidak diharapkan oleh dunia dapat saja terjadi selain perang dagang yaitu perang senjata. Negara yang dihadapi Amerika adalah negara dengan populasi terbesar di dunia, negara yang sangat independen, bangsa yang penduduknya sangat mencintai dan menjunjung tinggi martabat negaranya, mungkin bagi China perang dagang bukanlah masalah besar yang tidak dapat diselesaikan, satu lagi China memiliki teknologi tinggi dan juga nuklir. 

Perang dagang Amerika - China menjadi virus bagi negara-negara lain diseluruh dunia untuk bersiap mempertahankan ekonomi masing-masing. Setidaknya dengan mengeluarkan banyak kebijakan ekonomi untuk menciptakan sentimen positif ke publik guna menghindari anjloknya ekonomi atau resesi ekonomi. Persaingan ekonomi, teknologi tinggi dan perebutan pengaruh politik kedua negara superpower untuk menjadi nomer satu menjadi hot news di seluruh dunia. Eskalasi tensi hubungan Amerika – China yang semakin panas sejak Trump memutuskan mengenakan tarif 25% terhadap barang-barang impor senilai USD 200 miliar dari China. Kebijakan terhadap penerapan tarif barang-barang impor China itu merupakan kalkulasi Trump terhadap keuntungan besar yang diraih China dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Trump memiliki harga tawar agar terjadi keseimbangan impor dan ekspor antara kedua negara.

Tentu saja penerapan tarif pajak terhadap barang-barang impor non-hightech dari China tersebut tidak membuat China gentar dan menerima begitu saja ditambah lagi Huawei shutdown. China akan melakukan serangan balik dengan menaikkan kembali tarif barang impor Amerika, hal ini dapat memicu perang dagang global yang berimbas ke negara-negara Eropa dan negara-negara lainnya. Inflasi ekonomi 10-tahunan bakal hadir kembali memicu krisis ekonomi global. Investor akan memantau perkembangan stock market sebelum China mengeluarkan kebijakan tarif balasan terhadap barang-barang impor Amerika. Penambahan tarif oleh China terhadap barang-barang impor Amerika, akan berdampak hilangnya ribuan pekerjaan di Amerika Serikat. Yang pasti bencana akibat perang dagang dapat menimbulkan pengangguran akibat melambatnya pertumbuhan industri, perang dagang tidak akan memberikan keuntungan untuk kedua negara dan global trade war tidak terhindarkan!

About author

by Boris Peranginangin

-civil engineer- who interested in crypto, social, economic, geopolitics and all things new!