Jun 13, 2019
0

ChainsightNews | Tahun 2018 lalu, Facebook dan juga Google sepertinya di "ancam" oleh Federal Agency karena memberlakukan promosi crypto untuk ditampilkan dalam Ads nya. Hal itu terjadi karena tahun 2017 akhir hingga awal  2018, bitcoin sedang hype dengan menyentuh level harga IDR 200 juta/bitcoin yang mengakibatkan banyaknya scam/penipuan dengan mengatasnamakan Investasi di crypto. Namun, dalam beberapa bulan terakhir ini, larangan terhadap Ads yang berbau blockchain dan crypto sudah dihapus dalam Ads Policy yang terbaru.

Tentu saja, akibat dari tindakan ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan bitcoin dan crypto lainnnya, bagaimana Facebook mencabut aturan yang dibuatnya sendiri. Dari sumber blog Facebook menyatakan:


"Meskipun kami masih meminta orang untuk mengajukan permohonan dalam menjalankan iklan yang mempromosikan cryptocurrency, mulai hari ini (9 Mei 2019), kami akan mempersempit kebijakan ini untuk tidak lagi mensyaratkan pra-persetujuan untuk iklan yang terkait dengan teknologi blockchain, berita industri, pendidikan atau acara yang terkait dengan cryptocurrency,".

Ternyata, Facebook yang sebelumnya di isu kan akan membuat "coin" semakin membukakan dirinya. Salah satunya dengan menghapus policy (aturan) dan merekrut orang-orang baru. Sekitar bulan Februari lalu, Facebook memposting lowongan baru untuk merekrut orang-orang yang akan terlibat dalam Mega Proyeknya.  Adapun orang-orangnya yang telah diketahui beberapa diantaranya adalah David Marcus, ex-presiden PayPal dan juga mantan direktur Exchange crypto terbesar di US yaitu Coinbase pada Agustus 2018 yang lalu. Lalu ada Christian Catalini, seorang Professor dibidang digital currency dari MIT, dan yang terakhir adakah Joshua Greens, juga seorang Professor dibidang yang sama dari Universitas Totonto. Disisi lainnya, Facebook juga mengakuisi salah satu startup bernama Chainspace, pada 4 Feb 2019. Startup ini terdiri atas beberapa founder yang berasal dari University College London.

Dalam beberapa hari ini, kemungkinan Facebook berbasis Blockchain dan Crypto akan terwujud. Hal yang tentunya menarik adalah untuk apa Facebook melalukan aksi ini ? karena seperti diketahui bahwa Facebook sudah memiliki "warga" hampir 2.5 Miliar dengan Revenue mencapai $40 Miliar/tahun nya. Disisi lain, anak perusahaan Facebook, yaitu Whatsapp dan Instagram juga akan terikut imbasnya sebagai mana, kedua aplikasi tersebut hampir digunakan oleh 80% oleh seluruh penduduk dunia, setiap hari. Apa sebenarnya tujuan nya ? apakah ingin mengubah struktur database facebook untuk menjadi berbasis Blockchain? atau apakah Facebook akan menggantikan sistem pembayaran Ads-nya dengan crypto? atau adakah hal yang lainnya ? tentu ini akan menjadi teka-teki hingga hari kemaren.

Chainsight, membongkar semua berita tentang hal ini di media-media dan mengambil kesimpulan bahwa Facebook akan menggunakannya untuk REMITTANCEHal tersebut selaras dengan info yang diperoleh bahwa Facebook akan menggunakan Stablecoin buatannya sendiri. Sebelumnya dikabarkan bahwa nama dari coin ini adalah Global Coin, dengan nama code proyek ini adalah LIBRA. sesuai dengan ramalan cover majalah The Economist yang menampilkan "timbangan".

Mengapa Facebook akan menyasar kepada bisinis ini? Salah satu penulis di Chainsight, juga sedang mengerjakan proyek yang sama dengan nama kode proyeknya ZENDZ. Sekitar beberapa hari yang lalu (9 Juni 2019), Forbes mengangkat artikel tentang 6 hal prediksi bagaimana Facebook akan menggunakan Blockchain dalam media sosialnya. Bloomberg sendiri mengangkat salah satu topik yang diangkat adalah bagaimana India (200 juta user whatsapp), akan menggunakan Whatsapp untuk transfer uang. Berdasarkan data yang dihimpun dari World Bank dengan bantuan visualisasi dari Howmuch memberikan gambaran berikut tentang Industri Remittance di dunia. 

     

Dari data yang di dapatkan, pada tahun 2018, ada sekitar $689 Miliar dana yang masuk dan $467 Miliar yang keluar dari total seluruh negara di Dunia. Di Indonesia sendiri, industri ini mencatatkan nilai yang keluar sekitar $5.2 Miliar dan yang masuk $9 Miliar pada tahun 2018. Dari hal ini, tentu saja, Facebook tidak mau ketinggalan kereta. Pemain Fintech yang juga berbasis Chatting yang mengadopsi sistem e-wallet dan transfer uang, yaitu WeChat yang bermarkas di Tiongkok. Namun, WeChat sendiri belum berbasis Blockchain dan Cryptocurrency, seperti yang akan di lakukan Facebook dalam beberapa hari kedepan. Target pendanaan Facebook sendiri diangka $1 Milyar yang diharapkan dana itu terpisah dari perusahaan induk Facebook. 

Akankah Facebook akan menjadi ancaman Bank dimasa mendatang ? hmmm...sepertinya "mereka" hanya mengganti wadahnya saja. Sebagai acuan, bahwa berdasarkan data dari lembaga keuangan dunia dibawah naungan World Bank, mencatat bahwa dana yang beredar di dunia crypto (bitcoin dan altcoin lainnya) hanya berkisar $202 Milyar. Akankah dengan hadirnya "LIBRA", akan menaikan Marketsize dari Crypto ? Kita tunggu saja tanggal mainnya. 

About author

REDAKSI

Chainsight adalah media untuk memberikan informasi yang terkini tentang perkembangan Blockchain dan Cryptocurrency. Anti-Centralization | Anti-Fractional Reserved | Anti-Fiat |